KAUM KANAAN: Sebuah Tinjauan Sejarah Tanah Sebelum Palestina

 

 

 

KAUM KANAAN

Oleh Riyanti, Mahasiswi Program Studi Arab

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia

NPM. 1006776145

 

Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. (QS. Al Anbiyaa: 71)[1]

 

  1. A.      Letak Geografis Tanah Kanaan

Sekitar tahun 2500 SM, yang saat ini disebut negara Syria, Lebanon, dan Palestina merupakan satu wilayah tanah Kanaan.[2] Sebelum Palestina berdiri sebagai sebuah negara, wilayahnya merupakan bagian dari tanah Kanaan. Tanah Kanaan berada di pusat area perkumpulan masyarakat, di mana wilayah timur dibatasi oleh Lembah Efrat, wilayah selatan berbatasan dengan Mesir, di sebelah barat berbatasan dengan Laut Mediterania, dan di sebelah utara berbatasan dengan tanah Hittite.[3]

Secara umum, wilayah Kanaan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu wilayah pesisir, dataran tinggi atau pegunungan, dan Lembah Yordan.[4] Wilayah pesisir berada di sebelah barat, menyisir Laut Mediterania. Wilayah ini menjadi pusat ekonomi dan pertanian sebagian besar Kaum Kanaan. Dataran tinggi tanah Kanaan meliputi pegunungan-pegunungan yang membentang dari utara ke selatan. Wilayah ini terdiri dari beberapa bagian, di antaranya bagian utara yang di dalamnya terdapat Gunung Hermon (atau disebut Gunung Siryon) yang tingginya mencapai 2800 m, Pegunungan Samaria, dan Pegunungan Yudea.[5] Penduduk Kanaan yang tinggal di kawasan pegunungan biasanya bermata pencaharian sebagai petani biji-bijian, buah-buahan, sayur-mayur, dan sebagai penggembala.[6] Lembah Yordan terdiri atas Sungai Yordan yang mata airnya terletak di sebelah barat Gunung Hermon, Laut Galilea yang dikelilingi bukit-bukit, dan Laut Mati yang dianggap sebagai genangan air paling rendah di dunia (mencapai 397 m di bawah permukaan laut). Oleh sebab itu, iklimnya panas sekali. Tidak ada saluran keluar, sehingga jika airnya meluap maka akan menguap. Hal ini yang menyebabkan airnya penuh dengan garam dan mineral-mineral lain.[7]

Keberadaan Laut Mediterania sangat menguntungkan Kaum Kanaan. Iklim yang kondusif membuat Kaum Kanaan mendirikan pemukiman di sekitarnya. Mereka mendirikan kerajaan-kerajaan kecil yang terdiri atas kota-kota seperti Betshean, Meggido, Arriha, dan Al Quds (di pedalaman).[8] Ada pula kota Gaza dan Askalon yang terletak di pesisir Tanah Kanaan.[9] Kota-kota tersebut yang menjadi persebaran penduduk Kanaan.

  1. B.     Asal mula Kaum Kanaan

Kaum Kanaan adalah keturunan Ham putra Nabi Nuh as.[10] Kaum Kanaan merupakan komunitas semit kedua setelah bangsa Assyiro-Babilonia.[11] Mereka memasuki wilayah Kanaan melalui Jazirah Arab pada milenium ketiga sebelum masehi. Kata Kanaan berasal dari bahasa Phoenicia, yakni kinahha, yang artinya bahan celup kuno warna merah marun yang pada waktu itu merupakan barang dagangan penting.[12] Kaum Kanaan adalah penduduk asli tanah Kanaan merupakan suku Amaliqah. [13] Mereka telah mendiami wilayah Kanaan sejak tahun 2500—1190 SM.[14] Sebuah artikel mengutip pernyataan Karen Armstrong dalam bukunya Jerusalem: Satu Kota Tiga Iman bahwa tidak banyak informasi tentang negeri Kanaan sebelum abad ke-20 SM. Namun, banyak bukti yang menguatkan pernyataan bahwa Bangsa Kanaan lebih dahulu mendiami Palestina.

Orang-orang Kanaan adalah orang-orang yang kuat. Hal ini yang membuat Bani Israel takut untuk memasuki tanah Kanaan setelah mereka diusir dari Mesir. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran. Mereka berkata: “ Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”[15]

  1. C.      Sistem Kepercayaan Kaum Kanaan

Sistem kepercayaan Kaum Kanaan sama halnya dengan sistem kepercayaan bangsa semit lainnya, yaitu menyembah alam.[16] Terdapat dua dewa utama yang mereka percayai. Dewa Ayah yaitu langit dan Dewa Ibu yaitu bumi. Dewa Langit yang bernama Baal bertugas mengatur hujan dan tanam-tanaman.[17] Dewa Ibu bernama Ashtart (orang-orang Babilonia menyebutnya Ishtar, sementara orang-orang Yahudi menyebutnya Ashtoreth).[18]

Agama Kaum Kanaan menonjolkan pemujaan kesuburan.[19] Pemujaan itu menyangkut rasa berkabung atas kematian berkala dewa tumbuhan oleh panasnya musim panas, upacara untuk perayaan kemenangannya atas dewa kematian di neraka dan akhirnya bergembira ria atas kebangkitannya kembali di musim semi. Setelah dibangkitkan kembali, Dewa Baal menikah dengan dewa kesuburan yaitu Ishtar. Hal ini menyebabkan bumi kembali menghasilkan pepohonan, bunga-bunga yang bermekaran dan buah-buahan.[20]

Kuil-kuil bangsa Kanaan meliputi reruntuhan di Betshean, Meggido, Lakhis, Sikhem, dan khususnya Hazor (yang mempunyai tiga kuil).[21] Naskah-naskah Ugarit menyebutkan terdapat berbagai macam hewan yang dikorbankan untuk upacara pemujaan.[22] Hewan-hewan tersebut di antaranya domba (domba jantan atau anak domba), burung-burung (termasuk merpati). Adapula buaha-buahan yang mereka gunakan yakni buah anggur. Dalam ritualnya mereka dipimpin oleh oleh seorang imam.[23]

Terlepas dari apapun, kaum Kanaan adalah penyembah berhala. Ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa Nabi Ibrahim diutus ke tanah ini. Nabi Ibrahim diselamatkan oleh Allah dari rencana jahat kaumnya di Babilonia dengan dikirim ke tanah Kanaan ini. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran berikut. “Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.  Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.”[24] Di negeri inilah Nabi Ibrahim dan anak cucunya mengemban misi dakwah, yaitu menyebarkan paham tauhid.

 

  1. D.      Sistem Pemerintahan Kaum Kanaan

Di tanah Kanaan tidak ada kerajaan atau negara kesatuan. Hal ini disebabkan daerah ini terletak di antara kerajaan-kerajaan besar di Mesir, Asia Minor, dan Mesopotamia.[25] Yang terdapat di tanah Kanaan hanyalah kota-kota kecil seperti Betshean, Meggido, Jericho, dan Al Quds (Jerusalem) yang terletak di tengah-tengah wilayah Kanaan.[26] Kota-kota kecil lainnya seperti Ugarit, Aradus, Gubla, Sidon, dan Tyre berada di sepanjang pesisir Laut Mediterania.

Kaum Kanaan lebih menyukai tinggal dalam bentuk komunitas-komunitas kecil.[27] Setiap komunitas dipimpin oleh seorang raja yang berasal dari kaum bangsawan. Masing-masing komunitas akan mengelilingi kota yang dibentengi oleh dinding yang kuat dan menara pertahanan. Masyarakat desa akan segera berlindung di sana jika mendapat ancaman bahaya. Sedang pada hari-hari biasa tempat tersebut dijadikan tempat perdagangan dan aktivitas sosial.[28] Beberapa kota yang dibentengi mengangakat seorang kepala pemerintah yang akan mempertahankan wilayahnya dari serangan dari tetangga yang lebih kuat atau serangan dari kaum nomad. Pembagian wilayah menjadi beberapa negara kota yang kecil seringkali menyebabkan terjadinya peperangan di kalangan mereka sendiri dan menyebabkan kondisi internal mereka tidak stabil.[29]

Pemisahan politik pada beberapa negara kota ini mencerminkan pembagian wilayah secara fisik  yang menyebabkan terbentuknya federasi. Ugarit pada abad 16 SM, Gubla pada abad 14 SM, Sidon sebelum abad 11 SM, kemudian disusul Tyre dan Tripoli pada abad 5 SM, masing-masing wilayah tersebut menjadi  ketua federasi pada masanya.

Sepanjang sejarah masyarakat Kanaan terbukti cinta damai dan tidak terpikirkan dalam benak mereka untuk membuat tentara militer meskipun sering terjadi konflik internal dan mendapat serangan dari luar. Dibandingkan perang, mereka lebih memusatkan minat mereka pada industri, perdagangan, seni, dan agama. Mereka akan menundukkan kepala sebelum terjadi penaklukan dari Mesir, Babylonia, Hittiteland, Persia dengan membayar upeti sebagai perlindungan dan kompensasi untuk memperluas wilayah dagang mereka.[30]

 

  1. E.       Perekonomian Kaum Kanaan

Kaum Kanaan bermata pencaharian bertani dan membuat kereta-kereta untuk berperang.[31] Selain itu Kaum Kanaan juga telah mengenal sistem perindustrian seperti industri logam dan industri tekstil. Sejak tahun 2100—1200 SM, Kaum Kanaan menjadi bangsa yang tak terkalahkan dalam hal perindustrian dan perdagangan.[32] Tahun 1500 SM keramik merupakan produksi paling baru dan paling sukses dalam perindustrian Kaum Kanaan.[33] Dalam hal perlogaman, Kaum Kanaan banyak memproduksi tembaga dan perunggu. Tidak jarang mereka melakukan perjalanan yang panjang untuk mencari jenis-jenis logam lainnya seperti timah, baja, ataupun besi.[34]

Industri tekstil mereka ditunjukkan dengan banyaknya produksi bahan celup warna ungu, yang menjadi latarbelakang orang-orang Phoenisia menyebut bangsa mereka dengan sebutan Kanaan.[35] Tyre dan Sidon menjadi pusat industri dan perdagangannya.[36]S Wilayah perairan mereka kaya akan jenis-jenis murex yang berasal dari tetesan-tetesan kecil bahan celup warna ungu yang sudah diekstrak.[37] Diperlukan skill yang terampil untuk mengekstrak tetesan-tetesan cairan dari dalam moluska (sejenis kerang-kerangan) yang kecil dan menggunakannya sebagai pewarna pada pakaian. Ini menjadi barang mahal yang hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang kaya pada waktu itu, seperti Helen of Troy, Cleopatra Mesir, pendeta-pendeta Yahudi, pendeta-pendeta Jupiter dari Asia Minor dan kaisar-kaisar Romawi. Para petinggi Katholik dan keluarga gereja di timur menjadikannya jubah merah marun (hasil dari bahan celup tadi) sebagai sebuah tradisi.[38]

Industri dan perdagangan tekstil, logam, tembikar, kaca, kayu, terigu, anggur dan produk asli lainnya yang dalam jumlah besar itu menjadi latarbelakang penemuan teknik pemasaran baru.[39] Berawal dari pelayaran sederhana ke sepanjang pantai, tanah Kanaan berubah menjadi negara maritim pertama dalam sejarahnya.[40]

 

  1. F.       Akhir riwayat Kaum Kanaan

Sekembalinya Bani Israil dari Mesir yang dipimpin oleh Yusya’, tanah Kanaanpun segera mereka taklukkan. Kota demi kota dapat merekan rebut. Akhirnya seluruh bumi Kanaan dari Selatan sampai ke Utara dapat mereka kuasai. Ada sekitar 35 orang raja yang memerintah di Kanaan dan kesemuanya dapat ditaklukkan. [41] Setelah berhasil menaklukkan seluruh bumi Kanaan, Yusya’ membagi tanah ini menjadi 12 bagian (the twelve tribes of Israel).  Masing-masing bagian diberikan kepada suku-suku Bani Israil yang terdiri dari 12 suku.

Setelah membagi-bagi tanah Kanaan menjadi 12 bagian, Yusya’ mendirikan pemerintahan keqadhian.[42] Pemerintahan keqadhian ini membuat orang-orang Israel semakin melemah karena tidak adanya persatuan. Hal ini membuat orang-orang Kanaan berusaha untuk bangkit dan memberontak kembali.[43] Bagaimanapun kerasnya usaha mereka merebut kembali tanah mereka dan berusaha merdeka dari orang-orang Israel, orang-orang Kanaan itu tidak berhasil juga. Tahun 1020 SM Bani Israel berhasil mendirikan pemerintahan kerajaan dengan Thalut sebagai raja pertamanya.[44] Sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran, “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” Hal ini membuat kekuasaan orang-orang Israel di tanah Kanaan semakin kuat dan melemahkan kedudukan orang-orang Kanaan. Meskipun di bawah kekuasaan Thalut terus menerus terjadi pemberontakan oleh orang-orang Kanaan, tetapi pada akhirnya orang-orang Kanaan pun dapat ditaklukkan.

Sejak tanah Kanaan dikuasai oleh Bani Israil, orang-orang Kanaan hidup sebagai pekerja pembangun kota-kota dan gedung-gedung. Akhir riwayat kaum Kanaan ini adalah ketika Nabi Sulaiman (raja Bani Israil pada waktu itu) meningga dunia.[45] Kaum Kanaan telah habis dan berasimilasi dengan Bani Israel. Dengan demikian, Kaum Kanaan digolongkan dalam kategori Al Arab Al Baidah (bangsa Arab yang telah musnah).[46]

Daftar Pustaka

Hitti, Philip K. A Short History of the Near East. New York: D. Van Nosatrand Company, Inc. 1966.

Hitti, Philip K. History of Syria including Lebanon and Palestine. London : Macmillan & co. Ltd. 1951.

Hitti, Philip K. The Near East in History. York: D. Van Nosatrand Company, Inc. 1960.

Kuncahyono, Trias. Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir. Jakarta: P.T. Kompas Media Nusantara. 2008.

Muhammad, Muhsin. Palestina, Sejarah, Perkembangan, dan Konspirasi. Jakarta: Gema Insani. 2002.

Yahya, Mukhtar. Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum lahir Agama Islam. Jakarta: P.T. Bulan Bintang. 1985.

 

Al Quran Digital

http://www.id.wikipedia.org/wiki/kanaan, diakses pada 27 Maret 2012, pukul 10.43.

http://www.sarapanpagi.org/ilmu-bumi-perjanjian-lama-vt1673.html, diakses pada 19 maert 2012, pukul 22.23.

http://www.sarapanpagi.org/ilmu-bumi-perjanjian-lama-vt1673.html, diakses pada 19 maert 2012, pukul 22.23.

 

 


[1] Yang dimaksud dengan negeri di sini ialah negeri Syam, termasuk di dalamnya Palestina. Sebelum tanah ini dikenal dengan Palestina, tanah ini dikenal dengan nama Kanaan. Tuhan memberkahi negeri itu artinya: kebanyakan nabi berasal dari negeri ini dan tanahnya subur.

[2] Philip K. Hitti, The Near East in History, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1960, hlm. 88.

[3] Philip K. Hitti, The Near East in History, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1960, hlm. 88.

[4] Muhsin Muhammad, Palestina, Sejarah, Perkembangan, dan Konspirasi, Jakarta, Gema Insani, 2002, hlm. 15.

[5] http://www.sarapanpagi.org/ilmu-bumi-perjanjian-lama-vt1673.html, diakses pada 19 maert 2012, pukul 22.23.

[6] Muhsin Muhammad, Palestina, Sejarah, Perkembangan, dan Konspirasi, Jakarta, Gema Insani, 2002, hlm. 15.

[7] http://www.sarapanpagi.org/ilmu-bumi-perjanjian-lama-vt1673.html, diakses pada 19 maert 2012, pukul 22.23.

[8] Muhsin Muhammad, Palestina, Sejarah, Perkembangan, dan Konspirasi, Jakarta, Gema Insani, 2002, hlm. 15.

[9] Muhsin Muhammad, Palestina, Sejarah, Perkembangan, dan Konspirasi, Jakarta, Gema Insani, 2002, hlm. 15.

[10] Trias Kuncahyono, Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir, Jakarta: P.T. Kompas Media Nusantara, 2008,  hlm. 105.

[11] Philip K. Hitti, The Near East in History, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1960, hlm. 88.

[12] Trias Kuncahyono, Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir, Jakarta: P.T. Kompas Media Nusantara, 2008,  hlm. 105.

[13] Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahanKekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1985, hlm. 44.

[14] Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahanKekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1985, hlm. 44.

[15] QS Al Maidah ayat 22

[16] Philip K. Hitti, A Short History of the Near East, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1966, hlm. 55.

[17] Philip K. Hitti, A Short History of the Near East, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1966, hlm. 55.

[18] Philip K. Hitti, A Short History of the Near East, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1966, hlm. 55.

[19] Philip K. Hitti, A Short History of the Near East, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1966, hlm. 55.

[20] Philip K. Hitti, A Short History of the Near East, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1966, hlm. 55.

[21] http://www.sarapanpagi.org/kanaan-orang-kanaan-vt3695.htmltoryprep.htm. di akses pada 25 Februari 2012 pukul 20.00 WIB.

[22] http://www.sarapanpagi.org/kanaan-orang-kanaan-vt3695.htmltoryprep.htm. di akses pada 25 Februari 2012 pukul 20.00 WIB.

[23] http://www.sarapanpagi.org/kanaan-orang-kanaan-vt3695.htmltoryprep.htm. di akses pada 25 Februari 2012 pukul 20.00 WIB.

[24] QS Al Anbiyaa’ 70-71

[25] Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahanKekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1985, hlm. 44.

[26] Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahanKekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1985, hlm. 44.

[27] Philip K. Hitti, History of Syria including Lebanon and Palestine, London, Macmillan & co. Ltd. 1951, hlm.82.

[28] Philip K. Hitti, History of Syria including Lebanon and Palestine, London, Macmillan & co. Ltd. 1951, hlm.82.

[29] Philip K. Hitti, History of Syria including Lebanon and Palestine, London, Macmillan & co. Ltd. 1951, hlm.82.

[30] Philip K. Hitti, History of Syria including Lebanon and Palestine, London, Macmillan & co. Ltd. 1951, hlm.86.

[31] Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahanKekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1985, hlm. 44.

[32] Philip K. Hitti, A Short History of the Near East, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1966, hlm. 48.

[33] Philip K. Hitti, A Short History of the Near East, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1966, hlm. 90.

[34] Philip K. Hitti, A Short History of the Near East, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1966, hlm. 48.

[35] Philip K. Hitti, A Short History of the Near East, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1966, hlm. 48.

[36] Philip K. Hitti, A Short History of the Near East, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1966, hlm. 48.

[37] Philip K. Hitti, A Short History of the Near East, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1966, hlm. 48.

[38]Philip K. Hitti, The Near East in History, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1960, hlm. 91.

[39] Philip K. Hitti, The Near East in History, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1960, hlm. 91.

[40] Philip K. Hitti, The Near East in History, New York, D. Van Nostrand Company, Inc. 1960, hlm. 91.

[41] Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahanKekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1985, hlm. 55.

[42] Pemerintahan keqadhian (pemerintahan para qadhi) adalah republik-republik kecil yang masing-masingnya berdiri sendiri, tidak ada hubungan satu sama lainnya, masing-masing diperintah oleh seorang qadhi atau hakim. (Mukhtar Yahya, 1985, hlm. 57)

[43] Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahanKekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam,  Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1985, hlm. 59.

[44] Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahanKekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1985, hlm. 60.

[45] Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahanKekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1985, hlm. 61.

[46] Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahanKekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1985, hlm. 61.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s