Bahasa-bahasa dari Rumpun Semit

 

Sekilas tentang Bangsa Semit

Sebelum kita sampai pada pengertian bahasa Semit, saya akan mengutip sebuah perkataan Ibnu Katsir yang mengatakan bahwa seluruh bani adam di bumi berasal dari 3 anak Nabi Nuh As yang tersisa yakni Yafits, Sam dan Ham (adapun Kan’an meninggal dalam bahtera banjir).  Kemudian Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sam adalah bapak orang Arab, Ham adalah bapak orang Habsyi, dan Yafits adalah bapak orang Romawi.”

Yang dimaksud dengan bangsa Semit adalah bangsa yang merupakan keturunan Sam bin Nuh As. Ada beberapa teori yang menjelaskan asal-usul bangsa Semit, di antara teori yang paling sering dijadikan rujukan adalah teori yang menyebutkan bahwa bangsa Semit berasal dari Jazirah Arab. Teori ini dikemukakan oleh Esbiringer dkk. Mereka berpendapat bahwa Jazirah Arab merupakan kawasan asal bangsa Semit.  Dari sanalah mereka berpencar ke berbagai kawasan sekitar yang lebih subur dan berperadaban seperti ke kawasan di antara dua sungai Eufrat dan Tigris, Suria, Palestina, Etiopia, Afrika Utara, dan Mesir. Di sanalah mereka kemudian mendirikan negara-negara dan kerajaan-kerajaan.

Bahasa Semit

Bahasa Semit (Semitic Languages) oleh beberapa tokoh linguis didefinisikan sebagai sejumlah bahasa yang digunakan oleh bangsa Semit di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Secara umum, bahasa-bahasa Semit terbagi menjadi dua kawasan yaitu kawasan timur dan kawasan barat. Bahasa Semit bagian barat terbagi menjadi bahasa Semit Barat Laut dan bahasa Semit Barat Daya.

Pengkategorian bahasa-bahasa Semit  dijelaskan dalam bagan berikut.

Image

Bagan Subrumpun Bahasa-bahasa Semit

Bahasa Akkadia merupakan bahasa yang digunakan di Mesopotamia antara tahun 2.500—600 SM. Wilayah bahasa Akkadia terletak di antara sungai Tigris dan sungai Euprat. Selanjutnya bahasa ini terbagi atas bahasa Babilonia dan bahasa Asyuria. Keberadaan bahasa ini diketahui melalui berbagai ukiran yang ditulis dengan huruf paku pada artefak. Ukiran paling penting tentang bahasa Akkadia ini adalah ukiran yang melukiskan hukum Hamurabi yang merupakan hukum paling tua di dunia.

Bahasa Ogaretia yaitu dialek Kan’ania Kuno yang dipakai sebagai alat komunikasi pada abad 14 sampai abad 13 SM di Ogaret, sebuah kota yang dulu terletak dua belas kilometer di utara Ladzikia pantai Suria.

Bahasa Ibrani yang paling tua digunakan dalam Taurat yang disebut biblical hebrew (1.200—200 SM). Kemudian pada abad 2 sampai abad 1 SM digunakan sebagai bahasa kesusastraan yang disebut sebagai bahasa Ibrani Mashnaic. Jenis bahasa Ibrani yang terakhir adalah bahasa Ibrani modern yang saat ini menjadi salah satu bahasa resmi Negara Israel (selain bahasa Arab).

Bahasa Imaranah ditemukan melalui surat bukit al-Imaranah, yaitu pada masa 1425-1350 SM. Surat-surat tersebut dikirim oleh raja-raja Suriah dan raja-raja Palestina kepada raja Fir’aun di Mesir. Surat itu menggunakan bahsa Asyuria dan diberi catatan kaki dengan bahasa Kan’ania.

Bahasa Mu’abia ditemukan melalui ukiran Misya’, raja Muabi. Ukiran ini berupa tugu yang ditemukan di kawasan Digan, bekas kerajaan Muabi Kuno. Ukiran ini menggambarkan peperangan yang terjadi antara raja Misya dengan Raja Umri dari Israel. Ukiran ini diperkirakan dibuat pada tahun 842 SM dan sekarang disimpan di Museum Lover Paris.

Bahasa Fenisia ditemukan melalui berbagai ukiran yang antara lain ukiran Raja Biglus (Jubail Saudi Arabia) seperti ukiran Syafath Ba’l abad ke 13 SM, ukiran Akhiram tahun 1100 SM, dan ukiran Akhimlak tahun 1000 SM. Ukiran terpenting yang ditemukan dalam bahsa Finisia adalah ukiran Raja Kilamu tahun 900 SM yang ditemukan di bukit Zanjirli di Suria dan kini disimpan di Museum Berlin.

Bahasa Aramea pada abad 10 SM merupakan bahasa yang digunakan di Syiria. Antara abad 7 hingga abad 4 SM digunakan sebagai bahasa perantara (lingua franca) antara kerajaan Babilonia dan Kerajaan Persia dan juga merupakan bahasa dari sebagian Taurat. Bahasa Aramea terdapat pada ukiran Nabatia, ukiran Tadammuria, dan ukiran-ukiran di gurun Sinai yang dibuat pada abad IV SM sampai abad ke I SM. bahasa Aramia merupakan dialek kelompok kristen yang masih hidup hingga kini di Irak Tenggara (bahasa Minda’ia). Bahasa Aramea yang terpenting adalah bahasa Suryania. Bangsa Aramia menamakan diri mereka sebagai bangsa Suryan.

Bahasa Etiopia merupakan bahasa bangsa Semit yang berpindah dari wilayah tenggara menuju negeri seberang, Etiopia. Di sanalah mereka membaur dengan suku Haam kuno. Ketika itu bahasa mereka disebut bahasa Ja’zia. Bahasa Ja’zia tidak berumur panjang karena pada abad ke 12 M terjadi kemelut politik di kalangan bangsa Ja’zi yang mengakibatkan bahasa persatuan mereka menjadi bahasa-bahasa daerah. Dan bahasa daerah yang paling menonjol adalah bahasa Amharia yaitu bahasa daerah yang sangat kental diwarnai oleh bahasa Hamia. Hal ini terlihat dalam struktur kalimat yang berbeda dengan bahasa Semit.

Bahasa Himyaria atau yang disebut sebagai Bahasa Arab Selatan dipakai di Yaman dan Jazirah Arab Tenggara. Bahasa Himyaria ini terbagi dua yaitu bahasa Sabuia dan bahasa Ma’inia. Tentang bahasa ini telah ditemukan artefak-artefak yang merujuk pada abad ke 12 SM sampai abad ke 6 M.

Bahasa Arab Fusha atau yang disebut dengan Bahasa Arab Utara merupakan bahasa wilayah tengah Jazirah Arab dan Timur Laut. Bahasa ini dikenal hingga kini dan masa-masa yang akan datang karena Al-Qur`an turun dan menggunakan bahasa ini. Bahasa ini mengalami penyebaran yang demikian luas bukan hanya di kalangan bangsa Arab saja tetapi juga di kalangan kaum muslimin di seluruh dunia.

Dari berbagai sumber

Mengucapkan Salam dengan Benar: Bentuk Sederhana Aplikasi Ilmu

 

ANALISIS BENTUK-BENTUK NOMINA TAKRIF PADA KALIMAT /WA ‘ALAIKUMUSSALAAMU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH/ DAN PENGARUHNYA TERHADAP MAKNA

 Oleh Riyanti , Mahasiswi Program Studi Arab

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

NPM. 1006776145

ABSTRAK

Makalah ini membahas tentang bentuk nomina takrif dalam bahasa Arab yang digunakan sebagai dasar untuk menganlisis bentuk nomina takrif yang terdapat dalam lafadz /wa’alaikumussalamu warahmatullahi wabarakaatuhu/. Hal ini dilakukan karena terdapat beberapa ketidaktepatan pengucapan kalimat tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pengucapan tersebut berkaitan dengan penulisannya dan berkaitan pula dengan makna kalimat tersebut. Dalam kalimat yang merupakan jawaban salam /assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu/ terdapat nomina takrif yang sering tidak disadari dan tidak diucapkan. Oleh karena itu, saya mengambil topik ini untuk saya teliti dengan harapan kalimat salam dapat diucapkan sebagaimana seharusnya, mengingat kalimat salam ini mengandung makna doa yang indah.

Kata kunci : nomina; takrif; makna

A.    Pengantar

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang berkembang di Indonesia. Indonesia yang merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa keagamaan. Bahasa Arab digunakan untuk melakukan peribadatan seperti sembahyang. Selain itu Bahasa Arab juga telah banyak diserap ke dalam Bahasa Indonesia untuk menyatakan istilah-istilah keagamaan maupun istilah-istilah non-keagamaan. Perkembangan bahasa Arab di Indonesia dapat dilihat dari diserapnya kurang lebih 3.000 Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia (Versteegh, 1997 : 238).

Salah satu contoh penggunaan Bahasa Arab yang sudah sangat terkenal di Indonesia adalah penggunaan kaliamat salam assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu beserta jawabannya wa ‘alaikumussalaam wa rahmatullaahi wa barakaatuhu. Kalimat salam ini bahkan sudah dianggap sebagai kalimat salam yang formal dan wajar digunakan dalam acara-acara keagamaan (Islam) maupun acara-acara non-keagamaan. Kalimat salam ini sering digunakan untuk mengawali dan mengakhiri pembicaraan dalam acara seminar, kegiatan belajar mengajar di kelas, acara rapat, saat bertemu seseorang, saat bertamu dan sebagainya. Kalimat salam ini memiliki kedudukan yang sama dengan ungkapan-ungkapan semisal selamat pagi, selamat sore, selamat malam atau untuk melengkapi kata halo saat seseorang menerima telepon.

Kalimat salam ini memiliki keistimewaan jika dibandingkan dengan kaliamat salam atau sapaan yang lain. Kalimat salam mengandung do’a dan keselamatan bagi yang diberi salam dan bagi orang yang mengucapkan salam. Jika kita melihat dari sisi makna, maka kalimat assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu dan kalimat wa ‘alaikumussalaam wa rahmatullahi wa barakaatuhu ini memiliki makna semoga keselamatan, kasih sayang dan berkah Allah senantiasa meliputimu dan jawabannya dan semoga keselamatan, kasih sayang dan berkah Allah senantiasa meliputimu (juga). Keagungan dalam kandungan makna inilah yang membuat kalimat salam ini terkesan istimewa dibanding dengan kalimat salam yang lainnya.

Dalam pengucapan salam ini banyak di antara orang-orang di Indonesia yang tidak mengucapkannya dengan benar. Seperti contoh, ketika seseorang mengucapkan salam assalamu ‘alaikumu wa rahmatullahi wa barakaatuhu, maka akan ada yang manjawab walaikum salam wa rahmatullahi wa barakaatuhu ataupun  wa ‘alaikum salaam wa rahmatullahi wa barakaatuhu. Padahal penulisan yang tepat adalah wa ‘alaikumussalaam wa rahmatullahi wa barakaatuhu. Dalam Bahasa Arab, hal ini akan berpengaruh pada makna. Jika kita telusuri lebih dalam, keagungan makna dalam salam ini akan kita dapatkan jika kita mengucapkannya dengan benar. Dalam kalimat salam ini nomina yang digunakan adalah nomina takrif (tertentu), yaitu nomina yang sudah mempunyai acuan.

Dalam Makalah ini, saya akan menganalisis pengaruh ketakrifan nomina dalam kalimat salam ini terhadap maknanya. Dalam Makalah ini akan dijelaskan apa saja bentuk-bentuk nomina jika dilihat dari umum dan khususnya. Bentuk-bentuk nomina tersebut nantinya akan dijelaskan apa pengertian, ciri dan fungsinya. Selain itu nantinya saya akan menjelaskan tentang nomina takrif dan cara pembentukannya. Setelah saya menjelaskan nomina takrif dan pembentukannya, saya akan menganalisis bentuk-bentuk nomina yang terdapat dalam kalimat salam tersebut dan menganalisis apa pengaruhnya terhadap maknanya.

Pada akhirnya, setelah saya mendapatkan hasil dari analisis ini, saya berharap kalimat salam dapat diucapkan sebagaimana seharusnya, sehingga maknanya tetap terjaga dari yang seharusnya.

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mencari jawaban dari rumusan masalah yang saya buat, yaitu apa saja ciri ketakrifan dalam bahasa Arab, bagaimana cara membentuk nomina tak takrif menjadi takrif dalam bahasa Arab, apa saja bentuk ketakrifan pada kalimat wa ‘alaikumussalaam wa rahmatullahi wa barakaatuhu, dan bagaimana pengaruh bentuk ketakrifan terhadap makna pada kalimat wa ‘alaikumussalaam wa rahmatullahi wa barakaatuhu.

Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu penggambaran secara kualitatif fakta, data, atau objek material yang bukan berupa rangkaian angka, melainkan berupa ungkapan bahasa atau wacana melalui interpretasi yang tepat dan sistematis. (Wibowo 2001: 43).

Untuk memudahkan memahami makalah ini, saya membagi bahasannya menjadi beberapa poin. Pertama, poin pengantar yang berfungsi sebagai pendahuluan. Poin ini berisi latar belakang pokok bahasan, rumusan permasalahan yang akan dibahas, tujuan penelitian, metode penelitian dan sistematika penelitian. Kedua, penjelasan tentang konsep Sintaksis dan Semantik. Ketiga, poin terkait nomina takrif dalam bahasa Arab. Keempat, tentang analisis dan pembahasan bentuk-bentuk nomina takrif pada aliamat wa ‘alaikum assalaam wa rahmatullahi wa barakaatuhu dan pengaruhnya terhadap makna. Poin terakhir berisi kesimpulan.

B.     Konsep Sintaksis dan Semantik

B.1. Sintaksis

Di dalam studi linguistik, dikenal istilah sintaksis. Sintaksis merupakan studi gramatikal struktur antar kata (Sihombing dan Kentjono, 2009: 123). Jika morfologi menelaah struktur intern kata, sintaksis menelaah struktur satuan bahasa yang lebih besar dari kata, mulai dari frasa hingga kalimat.

Dalam bahasa Arab, baik frasa maupun kalimat, keduanya dibedakan antara nominatif dan verbatif. Berikut penjelasannya.

  1. Frasa

Frasa merupakan satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (Arifin dan Junaiyah, 2008: 4). Clive Holes membagi frasa dalam Bahasa Arab menjadi dua, yakni frasa nominatif dan frasa verbatif (1994: 160). Contoh frasa nominatif, kitaabun jadiidun (buku yang bagus), kitaabu Ahmadu (buku milik Ahmad). Contoh frasa verbatif, lam akla (belum makan), maa dzarab (tidak memukul)

2. Klausa

Klausa merupakan satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri dari subjek dan predikat. Klausa dapat berpotensi menjadi kalimat (Arifin dan Junaiyah, 2008: 4). Contoh klausa, ‘indamaa dzahabtu (ketika saya pergi).

3. Kalimat

Kalimat merupakan satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final, dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. Jika dilihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. (Arifin dan Junaiyah, 2008: 5).  Terdapat empat bentuk struktur kalimat utuh dalam Bahasa Arab (Holes, 1994: 204).

  1. Free-standing subject (Subjek yang berdiri sendiri), contoh yaskunu akhiy fii baaris (Saudara laki-laki saya tinggal di Paris). Kata ‘akhiy’ (Saudara laki—laki saya) tertulis secara jelas dalam kalimat.
  2. Dependent subject (Subjek yang melekat pada verba), contoh askunu fii landan (Saya tinggal di London). Kata ‘askunu’ berarti ‘saya tinggal’. Subjek dalam kalimat tersebut adalah kata ‘saya’ yang melekat pada predikat yaitu ‘askunu’.
  3. Dependent subject no complement (subjek yang melekat pada verba tanpa pelengkap), contoh maridzat (Dia sakit). Kata ‘maridz’ berarti sakit, imbuhan ‘at’ menandakan bahwa yang sakit adalah orang ketiga tunggal feminin.
  4. Verbless sentence (kalimat yang predikatnya bukan verba)

Contoh, Anaa induuniisiyyah (saya orang indonesia)

Berdasarkan kata yang mengawali kalimat, kalimat dalam Bahasa Arab dibagi dua, kalimat nominatif dan kalimat verbatif (Ismail dkk, 1982: 3).

  1. Kalimat Nominatif

Kalimat nominatif dalam bahasa Arab disebut sebagai jumlah ismiyyah. Kalimat nominatif adalah kalimat yang didahului oleh noun. Contoh :

  1. Asshaumu ‘ibaadatun (Puasa adalah ibadah.)
  2. Muhammadun nabiyyun (Muhammad adalah seorang nabi.)

Pada kedua contoh di atas, kata “asshaumu” dan kata “Muhammadun” adalah noun atau kata benda.

2. Kalimat Verbatif

Kalimat verbatif dalam bahasa Arab disebut sebagai jumlah fi’liyyah, yaitu kalimat yang didahului oleh fi’il (kata kerja). Contoh :

  1. Dzahabtu ilaa al jaami’ah (Saya pergi ke kampus.)
  2. Yasyrabu Ahmadu al qahwata (Ahmad minum kopi.)

Pada kedua contoh di atas, kata “dzahabtu” dan kata “yasyrabu” adalah verba atau kata kerja.

B.2. Semantik

Semantik merupakan bidang linguistik yang mempelajari makna tanda bahasa (Darmojuwono, 2009: 114 ). Makna dapat dibedakan menjadi makna leksikal dan makna gramatikal. Makna leksikal disebut juga makna denotatif atau makna deskriptif merupakan relasi kata dengan konsep benda/peristiwa atau keadaan yang dilambangkan dengan kata tersebut (Darmojuwono, 2009: 115). Makna gramatikal yaitu makna yang dihasilkan karena susunan kata secara gramatika. Darmojuwono menyebutnya sebagai fungsi gramatika. (2009: 116).

  1. C.    Nomina Takrif dalam Bahasa Arab

C.1. Nomina Tak takrif (isim nakirah)

Nomina tak takrif adalah nomina atau kata benda yang tidak merujuk pada sesuatu atau belum tertentu. Nomina tak takrif merupakan nomina yang menunjukkan makna umum atau belum diketahui kehususannya (Ismayati 2007: 47). Berikut ciriciri nomina tak takrif  :

  1. huruf terakhir bertanwin (an, in atau un)
  2. nomina berdiri sendiri atau tidak bersandar pada nomina lain.

Contoh :           1. Yadkhulu thaalibun ilal fashli (Seorang mahasiswa masuk kelas)

2. Ummiy thabiibatun (Ibuku seorang dokter)

C.2. Nomina Takrif (isim ma’rifat)

Nomina takrif atau isim ma’rifah adalah kata benda yang sudah merujuk pada sesuatu atau sudah tertentu. Nomina takrif merupakan nomina yang sudah diketahui kekhususannya.

C.3. Bentuk dan Fungsi Nomina Takrif

  1. 1.      Partikel –al diawal nomina

Penulisan artikel –al melekat dengan nominanya. Mengenai cara membaca artikel ini terdapat dua jenis, yakni –al qamariyah dan –al syamsiyyah. Disebut –al qamariyah apabila artikel –al bertemu dengan huruf alif, ba, gha, ha, ja, ka, wa, kha, fa, ‘a, qa, ya, ma, dan Ha. Cara pengucapannya adalah dengan memperlihatkan bunyi ‘al’nya. Contoh : Al kitaab (buku itu), ‘al’ pada kata tersebut dibaja jelas. Disebut –al syamsiyah apabila artikel –al bertemu dengan huruf ta, tsa, da, dza, ra, za, sa, sya, sha, dha, tha, dla,na, dan la.  Cara pengucapannya adalah dengan meleburkan huruf ‘al’ padahuruf di depannya. Contoh : Al dunyaa (dunia), ‘al’ pada kata tersebut tidak dibaca jelas, melainkan dileburkan pada huruf di depannya yaitu huruf da, sehingga secara lafal berbunyi ad dunyaa.

Jika suatu nomina Arab didahului artikel –al, nomina tersebut akhirannya tidak bertanwin. Dalam Bahasa Arab, fungsi makna pengkhususan dari artikel –al digunakan pada suatu keadaan berdasarkan konteksnya dalam suatu kalimat (Holes, 1994: 161). Contoh, kaana fii bagdaadi rajulun bakhilun, wa kaana ar rajulu … (di Bagdad terdapat seorang pria kikir, dan pria itu …)

  1. 2.      Frasa Posesif (idhafah)

Frasa Posesif atau idhafah adalah gabungan antara satu kata (induk nomina posesif) dengan kata yang lain (anak nomina posesif).  Proses untuk menjadi takrif adalah dengan menggabungkan nomina tak takrif pada nomina takrif, dengan begitu nomina yang tak takrif berubah menjadi takrif.

Contoh :

  1. Kitaabu thaalibin (buku murid).
  2. Kitaabu Muhammadun (buku Muhammad)

Pada contoh pertama terdapat penggabungan dua nomina yang keduanya tak takrif, maka penggabungan ini (frasa ini) pun tetap tak takrif. Sementara pada contoh kedua, kata kitaabu  tak takrif dan kata  Muhammadaun adalah nomina takrif (nama diri), jadi kedua penggabungan kata tersebut membentuk frasa takrif.

  1. 3.      Pronomina demonstratif (isim isyarah)

Pronomina demonstratif merupakan kata tunjuk yang dipergunakan untuk menggantikan nomina. (Ismayati, 2004: 7). Dalam bahasa Arab, kata tunjuk, baik kata tunjuk dekat maupun jauh dibedakan berdasarkan jumlah nomina, gender dan kasusnya.

Jumlah dan gender Kata Tunjuk Dekat Kata Tunjuk Jauh
Tunggal maskulin Haadzaa dzaalika
Dual maskulin Haadzaani dunika
Jamak maskulin Haaulaai ulaaika
Tunggal feminin Haadzihii tilka
Dual feminin Hataani taanika
Jamak feminin Haaulaai ulaaika

Selain kata tunjuk di atas, juga terdapat kata tunjuk lain yaitu hunaa yang berarti ‘di sini’ dan hunaaka  yang berarti ‘di sana’. Setiap nomina yang ditunjuk adalah definit (takrif) (Ismayati, 2007: 59)

  1. 4.      Pronomina relatif (isim maushul)

Pronomina relatif atau isim maushul  merupakan kata sambung yang berfungsi sebagai penghubung beberapa kalimat atau pokok p ikiran menjadi satu kalimat. Dalam bahasa Indonesia isim maushul tidak memiliki arti yang khusus, namun dapat diwakili dengan kata yang, orang, tempat dan dapat berarti pula barang atau sesuatu. Dalam bahasa Inggris, dapat menggunakan kata which, who, whom, whose, where, dan that. Dalam bahasa Arab, salah satu bentuk pronomina relatif dapat dijumpai dalam bentuk alladzii. Berikut ini macam—macam  isim maushul atau promomina relatif dalam bahasa Arab.

Jumlah Nomina Maskulin Nomina Feminin
Tunggal Alladzii allatiiy
Dual Alladzaani allataani
Jamak Alladziina Allaai/allaatiiy

Setiap nomina yang diikuti isim maushul statusnya menjadi takrif atau definit (Ismayati 2007: 65).

  1. 5.      Nama diri (‘alam)

Nama diri merupakan nama seseorang atau nama sesuatu, baik itu tempat, atau benda tertentu. Menurut Holes, nama diri bersifat definit atau takrif.

Contoh : 1. Yadzhabu Ahmadu ila almadrasati (Ahmad pergi ke sekolah)

  1.                2.  adzhabu ila Makkata  (saya pergi ke Mekah)

Pada kedua contoh di atas, kata ‘Ahmad’ (nama orang) dan ‘Mekah’ (nama tempat) dikategorikan sebagai nomina definit (takrif). (Ismayati 2007: 56)

  1. 6.      Pronomina (dhamir)

Pronomina adalah kata yang mewakili atau menggantikan penyebutan sesuatu atau seseorang atau sekelompok benda/manusia/selain manusia sebagai pihak-pihak yang berbicara atau pembicara (mutakallim), yang diajak bicara (mukhatab), dan yang dibicarakan (ghaib) (Ismayati, 2007: 48). Dalam Bahasa Arab, pronomina atau dhamir dibagi menjadi tiga, sebagai berikut:

  1. Pronomina Bentuk Bebas (Dhamir Munfashil), adalah pronomina bentuk bebas atau terpisah. Secara sintaksis, berfungsi sebagai subjek dan predikat.
Dhamir Tunggal Dual Jamak
Orang ketiga maskulin Huwa Huma Hum
Orang ketiga feminin Hiya Huma Hunna
Orang Kedua maskulin Anta Antumaa Antum
Orang Kedua Feminin Anti Antumaa Antunna
Orang Pertama Anaa Nahnu
  1. Pronomina Klitika (Dhamir Muttashil)

Pronomina Klitika atau dhamir muttashil adalah pronomina yang tidak diucapkan dengan sendirinya atau selalu tersambung dengan kata lainnya. Pronomina ini terdapat pada nomina, verba dan  dan partikel. Secara sintaksis, pronomina klitika berfungsi sebagi objek, pelengkap, dan keterangan.

Dhamir Tunggal Dual Jamak
Orang ketiga maskulin ..Hu. …Huma …Hum
Orang ketiga feminin …Haa …Huma …Hunna
Orang Kedua maskulin …ka …kumaa …kum
Orang Kedua Feminin …ki …kumaa …kunna
Orang Pertama …iy …naa

Pronomina Klitika terikat pada:

1. Nomina, ketika terikat pada nomina pronominaklitika ini menimbulkan makna kepemilikan. Jika suatu nomina diikuti oleh pronomina klitika atau dhamir muttashil maka nomina tersebut menjadi takrif atau ma’rifah.

Contoh : kitaabuka (buku  kamu)

2. Verba, ketika terikat pada verba berfungsi sebagai pengganti nomina yang berfungsi sebagai objek. Contoh : Huwa hamalniy alkitaaba (dia membawakan saya buku itu)

3. Preposisi, contoh : almaktabatu allatii adkhulu  fiiHaa (perpustakaan tempat saya masuk)

  1. Pronomina Tersirat (Dhamir Mustatir)

Dhamir Mustatir adalah  dhamir yang keberadaannya tersembunyi di dalam verba, tidak tampak dalam penulisan (penulisan bahasa Arab)/tersirat.

Contoh : uriidu  alqahwata (saya ingin kopi itu). Kata uriidu bermakna ‘saya ingin’ berasal dari kata araada yang berarti ‘ingin’ ditambah dhamir mustatir berupa anaa yang berarti ‘saya’.

  1. D.    Analisis dan Pembahasan

Jika ditelaah satu persatu, maka kata-kata yang terdapat dalam lafadz وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ  adalah sebagai berikut.

Kata Keterangan Makna dalam kamus Al Munawwir
وَ /wa/ Konjungsi dan, juga, pula, seperti halnya
عَلَي /’alaai/ Preposisi di atas, pada, di, dengan
كُم /kum/ Pronomina Klitika orang kedua (milik) kamu, kalian, Anda
السَّلَامُ  /assalaam/ Nomina takrif keselamatan, perdamaian, salam, pemberian hormat
رَحْمَةُ  /rahmatu/ Nomina tak takrif Rahmat, kasih sayang, simpati, keramahan, toleransi
الله /allah/ Nomina takrif Allah, Tuhan Yang Maha Esa
بَرَكَات  /barakaatu/ Nomina tak takrif bentuk jamak dari kata بَرَكَة berkah, kemakmuran, kebaikan
هُ  /hu/ Pronomina Klitika orang ketiga (milik)nya, dia

Dari analisis di atas, ditemukan tiga bentuk  nomina yaitu kata assalaam dan rahmatu allah dan barakaatuhu. Berikut ini penjelasan dari bentuk ketakrifan nomina-nomina tersebut.

  1. السَّلَامُ  /assalaam/

Kata السَّلَامُ  /assalaam/ terdiri dari kata سلَام /salaam/ dengan ditambahkan partikel ال /al/ sebelumnya. Sebagaimana telah dijelaskan dalam bab tiga, jika terdapat nomina yang didahului oleh partikel ال /al/, maka nomina tersebut berarti definit, khusus atau takrif.

Dalam konteks lafadz, kata السَّلَامُ  /assalaam/ berarti ‘kesalamatan atau kedamaian yang merujuk pada ungkapan sebelumnya (yaitu lafadz assalaamu’alaikum…). Kata السَّلَامُ  /assalaam/ juga dapat diartikan sebagai ‘keselamatan atau kedamaian yang datangnya dari Allah Swt.’ Hal ini dapat dilihat dari nomina-nomina selanjutnya yang bergabung dengan kata allah atau pronominanya. Dapat dikatakan demikian karena nomina-nomina pada lafadz wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakaatuhu memiliki tingkatan yang setara yang ditandai dengan konjungsi wa (dan).

  1. رَحْمَةُ الله   /rahmatullahi/

Jika dilihat dari penyusun frasanya, frasa ini terdiri atas kata رَحْمَةُ /rahmatun/ dan الله /allahu/. Kata رَحْمَةُ /rahmatun/ merupakan nomina tak takrif yang bersandar pada kata الله /allahu/ yang merupakan nomina takrif dengan ciri ditandai partikel ال /al/. Karena telah bersandar pada nomina takrif, maka kata رَحْمَةُ /rahmatun/ menjadi takrif. Oleh karena itu kata رَحْمَةُ /rahmatun/ tidak lagi dibaca tanwin un melainkan menjadi u saja. (menjadi /rahmatullahi/ bukan /rahmatunallahi/). Bentuk ketakrifan nomina ini adalah idhafah atau frasa posesif. Secara sintaksis, frasa رَحْمَةُ الله   /rahmatullahi/ bermakna ‘kasih sayang (milik) Allah’.

  1. بَرَكَاتهُ  /barakaatuhu/

Nomina ini tersusun atas kata بَرَكَاتٌ  /barakaatun/ dan dhamir muttashil ghaib (pronomina klitika orang ketiga) هُ . Kata بَرَكَاتٌ  /barakaatuhun/ merupakan nomina tak takrif karena ditandai dengan huruf akhir yang bertanwin. Tetapi karena melekat atau bersandar pada pronominal هُ maka kata بَرَكَاتٌ  /barakaatuhun/ menjadi takrif, yaitu menjadi بَرَكَاتهُ  /barakaatuhu/. Bentuk ketakrifan dari frasa ini adalah karena penambahan pronominal klitika atau dhamir muttashil.

Kata بَرَكَاتٌ  /barakaatun/ adalah bentuk jamak dari kata بَرَكَة yang bermakna ‘berkah, kemakmuran, kebaikan’. Oleh karena itu, kata بَرَكَاتٌ  /barakaatun/ saya artikan sebagai ‘kebaikan-kebaikan atau berkah-berkah’. Sementara kata هُ /hu/ merupakan kata ganti milik yang merujuk pada kata الله /allahu/. Oleh karena itu, nomina بَرَكَاتهُ  /barakaatuhu/ saya artikan sebagai ‘kebaikan-kebaikan (milik) Allah’.

Dengan demikian lafadz وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ /wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakaatuhu/ dapat saya artikan ‘dan semoga keselamatan, kasih sayang dan kebaikan-kebaikan Allah membersamaimu’.

  1. E.     Kesimpulan

Nomina takrif dalam bahasa Arab merupakan yang nomina yang sudah diketahui kekhususannya. Bentuk nomina takrif dalam bahasa Arab ada enam macam, di antaranya berupa penambahan partikel –al diawal nomina, frasa posesif (idhafah), pronomina demonstratif (isim isyarah), pronomina relatif (isim maushul), nama diri (‘alam) dan pronomina (dhamir) yang berupa pronomina klitika.

Dalam kalimat wa’alaikumussalaamu warahmatullaahi wabarakaatuhu terdapat tiga bentuk nomina takrif yakni  السَّلَامُ  /assalaam/, رَحْمَةُ الله   /rahmatullahi/ dan بَرَكَاتهُ  /barakaatuhu/. Bentuk takrif yang terdapat pada السَّلَامُ  /assalaam/ berupa partikel ال /al/ yang menjadikan kata ini bermakna ‘keselamatan atau kedamaian yang datangnya dari Allah Swt.’ Bentuk takrif yang terdapat pada رَحْمَةُ الله   /rahmatullahi/ yaitu berupa frasa posesif (idhafah) yang menjadikan nomina tersebut bermakna ‘kasih sayang (milik) Allah’. Bentuk takrif pada بَرَكَاتهُ  /barakaatuhu/ berupa pronomina klitika (dhamir muttashil) yang menjadikan nomina tersebut bermakna ‘kebaikan-kebaikan (milik) Allah’.

DAFTAR PUSTAKA

Holes, Clive. (2004). Modern Arabic: Structures, Functions, and Varieties. Washington, D.C: Georgetown University.

Ismail, Mahmud dkk. (1981). Al Qawaaidu Al ‘Arabiyyah Al Muyassarah Kitaabu Tsaalits. Riyad: Universitas Malik Saud.

Ismail, Mahmud dkk. (1989). Al Qawaaidu Al ‘Arabiyyah Al Muyassarah Kitaabu  Tsaani. Riyad: Universitas Malik Saud.

Ismayati, Iis. (2010). Ketakrifan dalam Bahasa Arab (Sebuah Kajian Sintak-Semantik). Depok: Universitas Indonesia.

Kushartanti, dkk. (2009). Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Muhidin, Asep. (2011). Nahwu Shorof Tadrijy : step by step of gramatical arabic. Depok: PT Khazanah Mimbar Plus.

Munawwir, Ahmad Warson. (1984) Al Munawwir Kamus Arab Indonesia. Yogyakarta: Pondok Pesantren Al Munawwir.

Versteegh, Kees. (1997). The Arabic Language. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Wibowo, Wahyu. (2001). Cara Cerdas Menulis Artikel Ilmiah. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Mengenal Kosakata Bahasa Indonesia Hasil Serapan Bahasa Arab

>> Pola Penyerapan Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia

1.       Pola Penyerapan Penuh

Penyerapan fonem secara utuh tanpa ada perubahan karena fonem bahasa Arab setelah ditransliterasi mempunyai kesamaan fonem dengan bahasa Indonesia.

Contoh :

” باب”   /ba:b/, dalam bahasa Indonesia tetap menjadi ‘Bab’

“مسجد” /masjid/, dalam bahasa Indonesia tetap menjadi ‘masjid’

“أول” /?awal/, dalam bahasa Indonesia tetap menjadi ‘awal’

“علم” /’ilmu/, dalam bahasa Indonesia tetap menjadi ‘ilmu’

2.       Pola Penyerapan Sebagian

Sebagian fonem yang terdapat dalam sebuah kata disesuaikan ke dalam Bahasa Indonesia, karena fonem tersebut tidak ada dalam Bahasa Indonesia.

Contoh :

“درجة” /darajat/, menjadi ‘derajat’ (fonem /a/ berubah menjadi /e/)

“مقلة” /maqalah/, menjadi ‘makalah’ ( fonem /q/ berubah menjadi /k/)

“ممكن” /mumkin/, menjadi ‘mungkin’ (fonem /m/ berubah menjadi /ng/)

“لفظ” /lafadz/, menjadi ‘lafal’ ( fonem /dz/ berubah menjadi /l/)

3.       Pola Penyesuaian Lafal

Penyesuaian ini dapat berupa penambahan fonem, penghilangan fonem, penggantian fonem bahkan penghilangan suku kata.

Contoh:

“صَبْرً” /abr/, menjadi ‘sabar’ (penambahan fonem /a/)

“جِلْد” /jild/, menjadi ‘jilid’ (penambahan fonem /i/)

“حيَرْاً”, /ḥayran/, menjadi ‘heran’ (penggantian fonem /a/ dan /y/ dengan /e/)

>> Penyimpangan Penyerapan

1.       Penyimpangan Pola Penyerapan

Contoh :

“فرض” /farḍu/, menjadi ‘perlu’ (seharusnya ‘fardu’)

“مجز” /majaz/, menjadi ‘majas’  (seharusnya ‘majaz’)

“مركز” /markaz/, menjadi ‘markas’ (seharusnya ‘markaz’)

2.       Penyimpangan Makna

Contoh :

“كلمة” /kalimat/, dalam bahasa Arab berarti ‘kata’, tetapi dalam bahasa Indonesia ‘kalimat’ berarti ‘kalimat’

“كلية” /kulliyat/, dalam bahasa Arab berarti ‘fakultas’, tetapi dalam bahasa Indonesia ‘kuliah’ berarti ‘pendidikan tinggi/pelajaran’

“لغة” /lughat/, dalam bahasa Arab berarti ‘bahasa’, tetapi dalam bahasa Indonesia ‘logat’ berarti ‘dialek’

Sumber : Zuhriah. 2004. Penyimpangan-penyimpangan Unsur Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

 

Bisa Berbahasa Arab, Kenapa Penting?

ImageSebagai seorang muslim, tentu bahasa Arab sangat penting buat saya. Al Quran yang merupakan guide nya orang Islam diturunkan dalam bahasa Arab. Hingga saat ini saya membaca Al Quran yang berbahasa Arab (meskipun ada terjemahannya). Sampai sekarang semua bacaan shalat adalah bahasa Arab. Kalau saya tidak mengerti dengan apa yang saya ucapkan, rasanya shalat dan bacaan Al Quran saya seakanakan tidak bernyawa. Saya ibaratkan ini seperti kita berjalan di sebuah taman yang indah tetapi mata kita tertutup. Jadi sebagai muslim, saya harus memahami  bahasa Arab.

Sebagai pelajar Indonesia, bahasa Arab sangat penting untuk di pelajari. Sumbersumber ilmu pengetahuan primer (sebelum diserap oleh barat) berasal dari dunia timur tengah. Alangkah senangnya jika saya bisa mempelajari itu semua dari akarnya langsung, sehingga keasliannya masih terjaga.

Sebagai orang Indonesia, saya tahu bahwa perekonomian dunia timur tengah itu sangat kuat. Bahkan bisa dikatakan, barat sangat ketergantungan terhadap minyaknya timur tengah. Hal ini terbukti dengan dekatnya hubungan barat dan timur tengah. Tidak heran jika bahasa Arab menjadi salah satu bahasa resmi di PBB. Penting bagi Indonesia untuk memiliki hubungan yang baik dengan dunia timur tengah. Kita harus banyak belajar dari mereka. Demikian sebaliknya, ada beberapa hal yang mereka bisa belajar dari kita. Untuk menciptakan hubungan yang baik ini, tentu, bahasa memegang peranan yang sangat penting. Mengingat bahasa adalah alat komunikasi yang menjadi jembatan bagi kedua belah pihak.

Inilah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk terus mempelajari bahasa Arab. Sampai sekarang saya masih mempelajarinya di Universitas Indonesia, Program studi Arab.