Perempuan di Titik Nol (women at point zero)

halaman sampul novel Perempuan di Titik Nol

“Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat. Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan kemudian menghukum mereka karena telah tertipu, menindas mereka ke tingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan, dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan, atau dengan pukulan.”

–0–

Jika kita membaca sekilas paragraf tersebut, mungkin sebagian dari kita akan berteriak tidak setuju. Dilihat dari segi apapun, pelacur tetap tidak ada baik-baiknya. Pelacur tetap diidentikkan dengan perempuan hina nan kotor. Saya tidak akan berpendapat untuk hal ini. Sebab, paragraf ini diucapkan oleh seorang perempuan yang bernasib kurang beruntung. Ia yang sejak kecil sudah dikenalkan dengan nasib buruk yang tidak ada hentinya menimpa dirinya. Sosok polos yang tidak punya ayah dan ibu pendidik dan pencetak karakter. Ya, untuk hal ini ia sangat minus.

Perempuan di Titik Nol, sebuah novel karya Nawal El Saadawi yang dialihbahasakan oleh Amir Sutaarga akan membuka mata kita lebar-lebar bahwa bagaimanapun Islam sudah disyiarkan di Mesir, dan Mesir sudah mengalamai masa modernisasi, ternyata masih ada perempuan di Mesir yang belum diperlakukan sebagaimana seharusnya yang diajarkan oleh Islam. Ada banyak faktor yang memengaruhi hal ini. Salah satunya (menurut saya) ketidakpahaman seorang perempuan terhadap hak dan kewajibannya sebagai seorang perempuan terlebih perempuan muslim.

Dalam novel ini, kita akan menemukan banyak penilaian-penilaian terhadap sosok laki-laki Mesir melalui sudut pandang Firdaus (tokoh utama novel ini). Sekali lagi saya belum punya pendapat dengan semua statement-statement yang dia lontarkan. Di satu sisi, saya memahami bagaimana perasaannya karena posisinya yang sangat jauh dari kata aman (untuk disebut perempuan beruntung), di sisi lain, penilaian-penilaiannya itu terkesan diperuntukkan bagi semua laki-laki dan cukup untuk menggiring pembaca bahwa semua laki-laki itu buruk (Anda boleh tidak setuju dengan pernyataan saya ini).

Saya sangat merekomendasikan novel ini untuk dibaca oleh kalangan perempuan, khususnya perempuan Indonesia. Supaya kita kembali memahami bukan hanya hak tetapi juga kewajiban kita sebagai perempuan. Sebagai perempuan tidak baik kalau kita hanya menuntut hak-hak kita terpenuhi, tetapi lebih bodoh jika kita hanya menjalankan kewajiban-kewajiban kita tanpa mengetahui bahwa kita punya hak.

Saya belajar banyak hal karena membaca novel ini,di antaranya pertama, peran keluarga -khususnya orang tua- dalam fase perkembangan anak itu sangat penting. Kedua, penting bagi seorang perempuan memahami hak, kewajiban, fungsi, peran dan kedudukannya dalam keluarga maupun masyarakat sebagaimana Islam mengajarkannya. ketiga, lingkungan sangat berpengaruh terhadap tingkah laku dan keputusan yang akan kita ambil.

If you want to know more about this novel, you should better to read it completely.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s