Tanah Surga, Katanya : Representasi Indonesia Perbatasan

tanah surga katanya

Bukan lautan hanya kolam susu, katanya

Tapi, kata kakekku, hanya orangorang kaya yang bisa minum susu

Kail dan jala cukup menghidupimu, katanya

Tapi, kata kakekku, ikanikan kita dicuri oleh banyak negara

Tiada badai tiada topan kau temui, katanya

Tetapi kenapa ayahku tertiup angin ke Malaysia?

Ikan dan udang menghampiri dirimu, katanya

Tapi, kata kakek, awas! Ada udang di balik batu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, katanya

Tapi, kata dokter intel, belum semua rakyatnya sejahtera

Banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri!

Sebuah puisi karya Salman *

Kisah ini terinspirasi dari lagunya koes plus yang berjudul “Kolam susu”. Sebuah film tentang nasionalisme yang di dalamnya saya temukan sebuah paradoks besar. Tentu ini PR besar buat kita para generasi bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera secara merata, bukan melulu Jakarta.

Sebuah kisah yang mengambil setting perbatasan Kalimatan Barat dengan Malaysia. Memang terlihat sangat sulit mempertahankan identitas kebangsaan dalam cerita ini. Di satu sisi, Malaysia telah memberikan pengharapan dan kehidupan yang menjajikan sementara Indonesia semakin jauh meninggalkan. Lantas bagaimana rupiah tak berganti ringgit? Bagaimana Haris tidak memilih menjadi warga negara Malaysia? Ini dialog yang menurut saya sangat menyentuh.

Haris : “Malaysia itu negeri yang makmur, Yah.”

Hasyim : “Negeri kita lebih makmur, Haris.”

Haris : “Jakrta yang makmur, bukan di sini. Kita ni di pelosok kalimantan, siapa yang peduli? “

Hasyim : “Haris, mengatur negeri ini tidaklah mudah. Tidak semudah membalik talapak tangan. Tahu kau?”

Haris : “tapi apa yang Ayah harapkan dari pemerintah? Mereka tidak pernah memberikan apaapa untuk Ayah yang pernah berjuang di perbatasan.”

Hasyim : “Aku mengabdi bukan untuk pemerintah, tapi untuk negeri ini, bangsaku sendiri!”

Beginilah kontradiksi yang terjadi antara ayah dan anak lakilakinya. Sang Ayah yang cintanya begitu besar untuk Indonesia, memilih tetap tinggal di Indonesia, apapun keadaannya. Sementara sang anak, demi kebutuhannya terpenuhi, dia berangkat ke Malaysia, menikah dengan perempuan Malaysia dan menjadi warga negara Malaysia.

Tetapi Salman, anak sulung Haris, tetap memilih Indonesia dan tinggal bersama kakeknya meski sekolahnya kecil, rusak di sana sini, dan meski malaysia menjanjikan kebahagiaan. Baginya, bahagia adalah membersamai Indonesia dan tetap berjuang untuknya.

Saya sungguh belajar banyak dari ia. Menjadi bangsa yang cinta dengan apa adanya Indonesia. Menjadi kesatrianya tanpa perlu ada yang melihat, tanpa perlu ada yang meminta. Saya teringat katakata salah seorang teman, “menjadi apapun anakku kelak, itu terserah dia, tapi yang jelas yang akan aku tanamkan pada anakanakku adalah tentang agama, pendidikan dan nasionalisme.”

Saya ucapkan selamat, karena film ini telah berhasil menjadi Film terbaik FFI 2012. Semoga semakin banyak film Indonesia yang menginspirasi, mendidik dan turut memperbaiki moral anak negeri ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s